Hati-Hati, Rutin Pakai Bedak Bayi Bisa Picu Kanker

Setidaknya itulah yang mungkin dialami Pamela Jones yang meninggal di usianya yang ke-50. Lebih kurang 11 tahun lalu, ibu dari Katie Searle-Jones ini tutup usia akibat kanker ovarium yang dideritanya. Dan kini, Katie menganggap bahwa bedak bayi adalah tersangka utamanya.

Hal ini disebabkan karena tidak ada anggota keluarga Katie lainnya yang juga menderita kanker. Seperti kita ketahui bersama, faktor penyebab kanker paling utama biasanya adalah genetik, diikuti dengan kebiasaan buruk seperti merokok.

Dan Pamela bukanlah ibu rumah tangga yang memiliki kebiasaan buruk tersebut.

katie- emily- pamela

katie – emily (saudaranya) – pamela – source: dailymail,co.uk

Sama seperti Pamela, Gloria Ristesund juga rutin memakai bedak bayi selama lebih kurang 40 tahun lamanya. Hingga kini wanita yang biasa menaburkan bedak bayi di sekitar area kewanitaannya tersebut masih bergulat dengan penyakit kanker ovarium yang dideritanya.

Meski begitu, baru-baru ini wanita berusia 62 tahun tersebut berhasil memenangkan gugatannya terhadap perusahaan bedak bayi ternama di dunia, Johnson & Johnson.

Para juri yang menjadi penilai dalam kasus ini berhasil memaksa perusahaan bedak yang berkantor utama di New Brunswick, New Jersey, Amerika Serikat, tersebut untuk membayar uang senilai £38 juta (setara dengan Rp760 miliar) setelah mendengar bahwa dalam jaringan otot indung telur Gloria ditemukan timbunan partikel-partikel bedak.

Gugatan ini merupakan yang kedua kalinya setelah 2 bulan silam, sidang pengadilan lain yang juga dilaksanakan di Inggris mengharuskan Johnson & Johnson membayar £50 juta (sekitar Rp 1 triliun) kepada keluarga almarhumah Jacqueline Fox.

Sama seperti Pamela dan Gloria, Jacq juga rutin menaburkan bedak bayi di area kewanitaannya selama lebih kurang 35 tahun. Fox meninggal di usianya yang ke-62 tahun (tahun 2015) lalu, setelah didiagnosa mengidap kanker ovarium pada tahun 2013.

Jacqueline Fox

Almarhumah Jacqueline Fox – source: butthatsnoneofmybusiness.com


Dalam kedua kasus gugatan yang menimpa perusahaan bedak yang berdiri tahun 1886 itu, pihaknya dianggap lalai dalam memberikan peringatan kepada konsumen khususnya para wanita tentang bahaya penggunaan bedak di area Mrs.V.

Meski demikian, produsen Band-Aid tersebut tetap bersikukuh bahwa produk bedaknya tidak berbahaya bagi kesehatan. Saat diwawancara terkait masalah tersebut, jubir perusahaan, Caroline Almeida menjelaskan kepada dailymail.co.uk: “Selama 30 tahun penelitian yang dilakukan oleh para ahli dan ilmuwan tidak pernah ditemukan bahaya di balik produk bayi kami.”

Dari debat yang terjadi antara pihak produsen bedak dan korbannya, muncul sebuah pertanyaan. Benarkah bedak bayi aman dipakai khususnya di area kewanitaan?

Tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan wanita, khususnya di Inggris, suka menaburkan bedak di area kewanitaannya setelah mandi. Rasa sejuk dan kemampuan bedak dalam menyerap keringat berlebih, serta aroma yang menyegarkanlah yang menjadi alasan utamanya.

Namun bagaimanapun juga, serbuk putih yang teksturnya super lembut ini tetaplah terbuat dari beragam mineral seperti magnesium dan silikon yang diekstrak dari bebatuan. Sebelum dimurnikan, bedak masih memungkinkan mengandung karsinogen (zat pemicu kanker) yakni mineral asbes.

Menurut dailymail.co.uk, saat Johnson & Johnson mulai memurnikan bedak pada tahun 70-an, pada waktu itu sudah ada beberapa studi yang berhasil menghubungkan antara kanker ovarium dengan pemakaian bedak.

Keprihatinan mengenai masalah ini muncul pertama kalinya tahun 1971 saat para ilmuwan Inggris dari Welsh National School of Medicine menganalisa belasan tumor indung telur. Mereka mendapati timbunan partikel bedak yang terkubur dalam 10 dari 13 sample tumor yang ada.

Empat puluh tahun kemudian, muncul 20 penelitian lain dari seluruh dunia yang juga menunjukkan adanya keterkaitan erat antara pemakaian bedak dengan kanker indung telur.

Tahun 2006 lalu, WHO bahkan mengklaim bahwa penggunaan bedak di alat genital bisa berpotensi karsinogen.

Ahli kandungan Dr Daniel Cramer dari Harvard Medical School yang sudah mempelajari masalah bedak selama 30 tahun pun percaya bahwa ada keterkaitan antara pemakaian bedak dengan kematian 10 ribu penderita kanker ovarium di Amerika setiap tahunnya.

Johnson&Johnson

source: dy365.in

Katie sendiri berkata bahwa menaburkan bedak merupakan ritual rutin karena aroma dan rasa segar yang ditimbulkan olehnya. Namun setelah mengikuti 2 kasus yang terjadi pada Gloria dan Jacq, ibu 2 anak berusia 29 tahun ini memutuskan untuk tidak lagi meniru kebiasaan ibunya tersebut.

Ia tak ingin mengambil resiko kehilangan nyawa hanya karena menaburkan bedak di area yang salah. Bagaimana dengan Anda?

Berhati-hatilah dalam memilih produk yang akan kita konsumsi dan terus update berita terkini sehingga kita mengetahui dengan cepat perkembangan berita. Blog SexySleep adalah salah satu berita terkini dalam kategori masalah seks dan hubungan intim.

Share this post